Menggelar marathon di tengah kota bukan perkara sederhana. Ribuan pelari membutuhkan rute yang aman, jalan harus disterilkan, dan petugas perlu bersiaga di berbagai titik. Namun, di saat yang sama, kota tetap berjalan. Warga masih harus bekerja, beribadah, menghadiri acara keluarga, atau menjalankan aktivitas lainnya.
Hal ini menjadi sorotan setelah Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 digelar pada Minggu (4/10/2026). Sejumlah warga mengeluhkan penutupan jalan yang dinilai terlalu luas, sementara informasi mengenai jalur alternatif dianggap belum memadai.
Menariknya, kritik tidak hanya datang dari warga yang terdampak. Sejumlah peserta lomba juga mempertanyakan apakah pengaturan lalu lintas sudah cukup mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang tidak mengikuti perlombaan.
Di sisi lain, ada yang mengingatkan bahwa marathon berskala besar berpotensi membawa manfaat ekonomi bagi kota melalui kunjungan peserta dari luar daerah. Perdebatan ini memunculkan pertanyaan penting yaitu bagaimana sebuah event bisa berjalan dengan baik tanpa mengabaikan aktivitas kota tempatnya berlangsung?
Jalan Steril, Tapi Bagaimana dengan Warga?
Jalan yang steril memang membantu menjaga keselamatan pelari. Namun, penutupan ruas jalan juga berdampak pada warga yang menggunakan jalur tersebut untuk beraktivitas sehari-hari. Sejumlah unggahan di media sosial menyoroti keterbatasan informasi mengenai jalur alternatif dan dampak penutupan terhadap perjalanan warga, termasuk mereka yang hendak menghadiri acara wisuda. Keluhan seperti ini tidak selalu berarti warga menolak penyelenggaraan marathon. Persoalannya bisa terletak pada sulitnya mengetahui jalan yang masih dapat dilewati, rute pengganti yang harus diambil, atau akses menuju lokasi tertentu selama perlombaan berlangsung.
Karena itu, informasi mengenai ruas yang ditutup, durasi penutupan, titik terdampak, dan jalur alternatif perlu disampaikan jauh sebelum hari pelaksanaan. Penyelenggara juga perlu berkoordinasi dengan pemerintah kota, Dinas Perhubungan, kepolisian, dan pihak terkait untuk memastikan pengaturan lalu lintas dapat dipahami masyarakat. Sebab, bagi warga yang tidak mengikuti lomba, hari itu tetap merupakan hari untuk menjalankan aktivitas seperti biasa.
Perencanaan Rute Tidak Bisa Hanya Berfokus pada Pelari
Dalam marathon, penentuan rute bukan sekadar menentukan titik start, jarak tempuh, dan garis finis. Penyelenggara juga perlu memperhitungkan kepadatan pelari, persimpangan, akses kendaraan darurat, serta dampaknya terhadap lalu lintas.
Sejumlah warganet mempertanyakan luasnya penutupan jalan dan mengusulkan alternatif seperti sistem buka-tutup atau perubahan rute pada kategori tertentu. Usulan tersebut tentu perlu dikaji berdasarkan kondisi jalan dan keselamatan. Sistem buka-tutup, misalnya, tidak selalu cocok untuk setiap ruas karena dapat menimbulkan risiko ketika pelari dan kendaraan berbagi ruang. Namun, berbagai masukan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan rute perlu mempertimbangkan kebutuhan lomba sekaligus akses masyarakat.
Koordinasi dengan pihak berwenang harus dilakukan sejak tahap perencanaan. Selain memastikan rekayasa lalu lintas berjalan sesuai rencana, penyelenggara perlu menyediakan informasi yang mudah diakses dan petugas yang memahami skema pengalihan jalan. Rencana yang baik bukan hanya rute yang aman bagi pelari, tetapi juga pengaturan yang meminimalkan gangguan terhadap aktivitas kota.
Petugas Lapangan dan Koordinasi Menentukan Pengalaman
Perencanaan yang matang tetap membutuhkan pelaksanaan yang baik. Dalam event sebesar marathon, marshal dan petugas lapangan berperan penting karena berhadapan langsung dengan peserta maupun masyarakat.
Sejumlah unggahan menyoroti panjangnya ruas jalan yang ditutup, terbatasnya akses alternatif di beberapa titik, hingga pengalaman ketika petugas dinilai belum mampu memberikan informasi yang dibutuhkan. Keluhan tersebut tidak serta-merta menggambarkan kinerja seluruh petugas. Namun, hal ini dapat menjadi bahan evaluasi mengenai kesiapan tim di lapangan.
Petugas perlu memahami tanggung jawab masing-masing, mengetahui jalur koordinasi, dan mampu mengarahkan pertanyaan kepada pihak yang tepat. Informasi mengenai rute, pengalihan lalu lintas, dan layanan medis juga harus dipahami oleh tim yang berkaitan.
Selain itu, perubahan rute atau pengaturan lalu lintas harus dikomunikasikan secara seragam kepada seluruh petugas. Ketika informasi berbeda antara tim perencana dan pelaksana, kebingungan di satu titik dapat memengaruhi pengalaman peserta maupun warga. Dalam event berskala besar, koordinasi di balik layar sama pentingnya dengan kelancaran acara yang terlihat oleh publik.
Pergantian EO dan Polemik Stroller Menambah Bahan Evaluasi
Di media sosial, penyelenggaraan ISOPLUS Marathon tahun ini juga dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Pergantian event organizer menjadi salah satu hal yang disorot. ISOPLUS Marathon 2024 dan 2025 disebut ditangani DnD Production, sedangkan edisi 2026 dikaitkan dengan IdeaRun.
Namun, pergantian EO saja tidak cukup untuk menyimpulkan penyebab munculnya kendala. Evaluasi perlu melihat proses perencanaan, pembagian tanggung jawab, kesiapan tim, serta koordinasi dengan pihak berwenang.
Polemik penggunaan stroller oleh peserta juga menambah sorotan terhadap konsistensi penerapan aturan. Nikmah mengaku telah menanyakan izin membawa stroller saat mengambil BIB, tetapi dihentikan di garis start. Sementara itu, Olivia Tommy Putri menyatakan telah mengajukan izin dan menerima persetujuan tertulis sebelum perlombaan.
Panitia menjelaskan bahwa stroller pada dasarnya tidak diperbolehkan demi keselamatan, tetapi permohonan khusus dapat dipertimbangkan sebelumnya. Kasus ini menunjukkan pentingnya mekanisme pengecualian yang jelas. Jika izin khusus dimungkinkan, prosedurnya perlu diinformasikan kepada peserta dan diteruskan kepada petugas lapangan agar persetujuan dapat diverifikasi.
Meskipun persoalan stroller berbeda dari penutupan jalan, keduanya menyoroti kebutuhan yang sama yaitu informasi yang jelas, koordinasi yang baik, dan aturan yang dipahami secara konsisten.
Manfaat Ekonomi Perlu Berjalan Bersama Kebutuhan Warga
Marathon dapat membawa manfaat ekonomi bagi kota. Peserta dari luar daerah maupun luar negeri berpotensi menggunakan hotel, transportasi, restoran, dan berbagai layanan lokal selama berada di Surabaya. Namun, potensi ekonomi tersebut tidak otomatis menghilangkan dampak yang dirasakan warga selama acara berlangsung.
Keduanya dapat terjadi bersamaan yaitu event berpotensi menggerakkan ekonomi lokal, tetapi pelaksanaannya tetap bisa menimbulkan kendala jika akses dan kebutuhan masyarakat tidak diperhitungkan. Tantangannya adalah bagaimana manfaat tersebut dapat dirasakan tanpa membuat warga merasa aktivitasnya diabaikan. Informasi yang disampaikan lebih awal, jalur alternatif yang jelas, akses ke lokasi penting, serta koordinasi lintas pihak dapat membantu mengurangi gangguan yang tidak perlu. Warga tidak harus menjadi peserta untuk mendapatkan informasi yang memadai mengenai event yang berlangsung di kotanya.
Marathon yang Baik Harus Bisa Berjalan Bersama Kota
Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan marathon membutuhkan persiapan yang jauh melampaui kebutuhan pelari. Ada rute yang harus diamankan, lalu lintas yang perlu diatur, petugas yang harus dibekali, dan masyarakat yang tetap perlu menjalankan aktivitasnya.
Keluhan yang muncul di media sosial sebaiknya menjadi bahan evaluasi, bukan langsung dianggap sebagai penolakan terhadap event lari. Hal yang perlu ditinjau mencakup perencanaan rute, penyampaian informasi kepada warga, koordinasi dengan pihak berwenang, kesiapan petugas, dan konsistensi penerapan aturan.
Jika ditemukan kendala, penyelenggara dan pihak terkait perlu menjelaskan perbaikan yang akan dilakukan secara konkret.
Sebab, keberhasilan marathon bukan hanya soal jumlah peserta atau berapa banyak pelari yang mencapai garis finis. Event juga perlu mampu berjalan berdampingan dengan kota tempatnya diselenggarakan.
Pelari datang untuk berlari, tetapi kota tidak berhenti beraktivitas hanya karena ada perlombaan.
