Konser bertajuk “KAHITNA 40 TAHUN Di Antara Takkan Tergantikan Cantik dan Titik Nadir Mantan Terindah” digelar pada 5 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta. Konser ini menjadi momen bagi Kahitna untuk merayakan perjalanan panjang mereka bersama para Soulmate.
Merayakan 40 tahun perjalanan musik tentu bukan perkara kecil. Apalagi ketika nama yang dibawa adalah Kahitna, dengan sekitar 18.000 penonton yang hadir dalam satu malam. Namun setelah acara selesai, percakapan di media sosial justru banyak membahas hal lain yaitu pengalaman penonton selama berada di venue. Sejumlah penonton menyampaikan keluhan terkait antrian masuk, tata letak tempat duduk, kualitas audio, layar LED, fasilitas venue, hingga akses keluar setelah konser.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Enjoy Live Experience selaku promotor menyampaikan permintaan maaf secara terbuka pada 6 September 2026. Promotor juga menyatakan tengah melakukan evaluasi internal dan membuka formulir khusus bagi penonton untuk menyampaikan kritik serta masukan.
Dari sini, ada satu hal yang menarik untuk dilihat lebih jauh yaitu seberapa besar pengalaman penonton ikut menentukan keberhasilan sebuah event?
Event Nggak Berhenti di Atas Panggung
Buat penonton, event sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum artis naik ke panggung. Mereka mulai merasakan event sejak berangkat menuju venue, mencari parkir, menemukan pintu masuk, mengantre, masuk ke area pertunjukan, mencari tempat duduk, sampai akhirnya pulang. Artinya, pengalaman menonton bukan cuma soal bagaimana penampilan artis atau semegah apa panggung yang dibuat.
Setiap perjalanan penonton adalah bagian dari event experience.
Karena itu, ketika ada keluhan mengenai antrian, akses venue, seating, sound system, atau fasilitas, hal tersebut ikut membentuk bagaimana penonton mengingat sebuah event secara keseluruhan.
Dari Antrian Sampai Exit, Semua Punya Cerita
Salah satu hal yang menjadi perhatian penonton adalah pengalaman saat memasuki venue. Sejumlah penonton mengeluhkan antrean yang dinilai kurang jelas dan kondisi yang sempat berdesak – desakan. Setelah berhasil masuk, pengalaman berlanjut ke area seating. Beberapa penonton mempertanyakan tata letak kursi dan kategori tiket karena terdapat area yang dinilai memiliki sudut pandang kurang optimal terhadap panggung maupun layar.
Di sisi produksi, audio dan visual juga menjadi bagian dari percakapan. Sejumlah penonton menyampaikan bahwa suara kurang terdengar jelas dari beberapa area, sementara layar LED yang seharusnya membantu penonton dengan jarak pandang lebih jauh disebut sempat mengalami gangguan. Kemudian ada juga hal yang terjadi di sela – sela pertunjukan. Jeda pergantian kostum yang cukup panjang dan porsi obrolan di antara penampilan turut menjadi pembahasan.
Menariknya, pembicaraan nggak berhenti ketika konser selesai.
Akses menuju venue, kondisi lalu lintas, parkir, ketersediaan toilet, pilihan makanan, sampai kondisi tangga di area venue juga ikut masuk dalam cerita penonton.
Karena bagi audience, event bukan cuma apa yang mereka lihat di panggung. Mereka juga mengingat apa yang mereka rasakan sebelum, selama, dan setelah acara.
Harga Tiket, Seating, dan Ekspektasi
Ada satu hal lain yang nggak bisa dilepaskan dari pengalaman penonton yaitu ekspektasi.
Dengan kategori tiket mulai dari Rp450 ribu hingga Rp3,5 juta, tentu ada perbedaan ekspektasi terhadap pengalaman yang didapat dari masing – masing kategori. Perbedaannya bukan hanya soal seberapa dekat posisi penonton dengan panggung. Visibilitas, kenyamanan, akses, hingga kemampuan menikmati pertunjukan dengan optimal juga menjadi bagian dari value sebuah kategori tiket.
Di sinilah seat plan punya peran yang cukup besar.
Seat plan bukan sekadar soal bagaimana ribuan kursi bisa masuk ke dalam venue. Dari sisi experience, penempatan kursi juga berarti menentukan apa yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan oleh penonton dari tempat mereka berada.
Semakin besar sebuah event, semakin banyak pula perspektif yang harus dipikirkan.
Coba Lihat Event dari Sudut Pandang Audience
Kalau sebuah event ingin dievaluasi secara menyeluruh, mungkin pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah acaranya berjalan?”
Tapi juga:
- Apakah audience tahu harus masuk dari mana?
- Apakah alur dari parkir sampai gate terasa jelas?
- Apakah antrian bisa bergerak dengan nyaman?
- Apakah setiap kategori tiket mendapatkan pengalaman yang sesuai?
- Apakah penonton di area yang berbeda tetap bisa menikmati audio dan visual dengan baik?
- Apa yang terjadi ketika ada jeda di tengah pertunjukan?
- Apakah toilet, makanan, signage, dan fasilitas lainnya cukup untuk jumlah audience?
- Dan setelah semuanya selesai, apakah penonton bisa keluar dari venue dengan lancar?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini bisa menjadi bahan evaluasi yang cukup besar ketika sebuah event melibatkan ribuan orang.
Karena Event Experience Dimulai Sebelum Show Dimulai
Kasus Kahitna 40 Tahun kembali mengingatkan bahwa membuat event besar bukan hanya soal menghadirkan artis, membangun panggung, lalu menjalankan rundown. Ada perjalanan panjang yang dialami audience di antaranya. Mulai dari mereka mencari parkir, mengantre, masuk ke venue, mencari kursi, menikmati pertunjukan, menggunakan fasilitas, sampai akhirnya pulang.
Semua touchpoint tersebut ikut membentuk pengalaman.
Dan pada akhirnya, event yang memorable bukan hanya event dengan panggung yang spektakuler. Tapi event yang membuat audience merasa bahwa setiap bagian dari perjalanan mereka memang sudah dipikirkan. Karena show mungkin selesai ketika lampu panggung dimatikan. Tapi experience penonton belum tentu selesai di sana.
