Datang ke food festival, pakai celana pendek, lalu diminta keluar karena aturan berpakaian?
Hal ini dibagikan salah satu pengunjung JKTGo melalui Threads dan kemudian ramai mendapat respons dari pengguna lain. Ada yang ikut bingung, ada yang mengaku sudah berencana datang dengan celana pendek, sampai ada yang mempertanyakan apakah event tersebut memang memiliki aturan berpakaian formal.
Salah satu pengunjung menulis bahwa dirinya tidak diperbolehkan masuk karena memakai celana pendek dan mengingatkan pengunjung lain untuk tidak mengenakan pakaian serupa karena JKTGo berada dalam satu area dengan event furniture.
JKTGo kemudian membalas unggahan tersebut. Mereka menjelaskan bahwa aturan tersebut berasal dari pihak IFFINA dan menyebut sedang berkoordinasi dengan pihak IFFINA agar proses masuk bagi pengunjung JKTGo bisa lebih mudah.
Dari sini, sebenarnya ada hal lain yang menarik untuk dibahas bukan cuma soal celana pendek, tapi soal bagaimana aturan sebuah event sampai ke pengunjung.
Dari Dessert Festival ke Home Living Festival
Sebelum hadir di NICE PIK 2, JKTGo baru saja menggelar Crazy Dessert Festival Vol. 2 pada 18–20 September 2026 di City Hall, Pondok Indah Mall 3, dalam rangkaian OCBC Nýala Fest 2026.
Dari komunikasinya, JKTGo membawa event ini sebagai tempat untuk dessert hunting. Ada 25 tenant yang menawarkan berbagai menu, mulai dari artisanal pastries, creative desserts, ice cream, hingga coffee.
Setelah event tersebut selesai, JKTGo mengumumkan agenda berikutnya, yaitu JKTGo Home Living Festival Vol. 2 pada 24–27 September di NICE PIK 2. Event ini menghadirkan lebih dari 68 tenant home living dan F&B. Jadi, sebenarnya ini bukan event yang sama persis dengan Crazy Dessert Festival. JKTGo sedang melanjutkan rangkaian event nya dengan konsep dan konteks venue yang berbeda. Dan perbedaan konteks inilah yang kemudian menjadi menarik.
Ketika JKTGo Bertemu IFFINA
JKTGo Home Living Festival Vol. 2 berlangsung di NICE PIK 2 dalam rangkaian IFFINA+ powered by imm cologne.
IFFINA sendiri memiliki konteks yang cukup berbeda dari food festival. Event ini berada di ranah furniture, design, craft, hingga industri manufacturing, woodworking, materials, dan hardware. Di dalamnya terdapat area F&B melalui Home Living Festival, sehingga pengunjung bisa datang untuk menikmati makanan sekaligus melihat tenant home living.
Dengan konteks tersebut, pengunjung JKTGo tidak hanya berhadapan dengan experience yang ditawarkan JKTGo, tetapi juga dengan aturan dan ketentuan yang berlaku dalam rangkaian event di venue tersebut. Perbedaan konteks ini kemudian bisa membuat kebutuhan dan ekspektasi pengunjung menjadi berbeda. Pengunjung yang datang untuk menikmati food experience bisa memiliki ekspektasi yang berbeda dengan pengunjung yang datang untuk sebuah exhibition.
Keduanya bisa berada di satu venue. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana aturan yang berlaku dikomunikasikan kepada masing-masing audience.
Jadi, Masalahnya di Mana?
Sebuah event tentu bisa memiliki aturan tertentu. Begitu juga dengan venue atau exhibition yang menaunginya. Dalam kasus ini, JKTGo sendiri sudah menjelaskan bahwa aturan mengenai pakaian tersebut berasal dari IFFINA. Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah aturan itu boleh dibuat atau tidak. Yang menarik adalah apakah pengunjung JKTGo tahu mengenai aturan tersebut sebelum mereka datang?
Sebab dari respons yang muncul di Threads, terlihat bahwa sebagian pengunjung baru mengetahui aturan tersebut ketika sudah berada di lokasi atau setelah membaca pengalaman pengunjung lain. Bahkan ada yang berkomentar bahwa dirinya sudah berencana datang ke JKTGo dengan mengenakan celana pendek. Ini menunjukkan satu hal sederhana yaitu informasi mengenai regulasi bisa sangat memengaruhi keputusan dan persiapan pengunjung.
Pengunjung Datang untuk JKTGo, Bukan untuk Memahami Struktur Event
Dari sisi penyelenggara, mungkin struktur eventnya sudah sangat jelas.
Ada IFFINA sebagai exhibition utama. Ada JKTGo sebagai bagian dari rangkaian Home Living Festival. Ada area F&B. Ada aturan venue yang harus diikuti.
Tetapi pengunjung tidak melihat event dari struktur tersebut. Yang mereka lihat adalah komunikasi yang mereka terima.
Kalau mereka melihat JKTGo sebagai sebuah food experience, lalu datang dengan ekspektasi yang sama seperti ketika mengunjungi Crazy Dessert Festival beberapa hari sebelumnya, wajar kalau mereka bisa kaget ketika menemukan aturan yang berbeda di lokasi berikutnya.
Ini yang menurut kami penting dalam membuat event yang melibatkan beberapa experience sekaligus. Karena audience tidak harus memahami apa yang terjadi di balik layar. Mereka hanya perlu tahu apa yang perlu mereka persiapkan sebelum datang.
Ketika Dua Karakter Event Berbagi Ruang
Menggabungkan beberapa event dalam satu venue sebenarnya bukan masalah. Bahkan, konsep seperti ini bisa membuat sebuah venue menjadi lebih ramai dan memberikan pilihan experience yang lebih banyak bagi pengunjung. Tetapi semakin banyak event dan karakter audience yang bertemu, semakin penting juga pengaturan di lapangan.
Mulai dari entrance, zoning, signage, visitor flow, sampai aturan yang berlaku untuk masing-masing area. Kalau ada aturan yang bisa membuat pengunjung tidak diperbolehkan masuk, informasi tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai aturan internal. Pengunjung juga perlu mendapat kesempatan untuk mengetahuinya sebelum mereka tiba di venue.
Apalagi ketika audience yang dituju cukup berbeda.
Food festival dan furniture exhibition tidak harus diperlakukan sebagai dua dunia yang tidak bisa bertemu. Tetapi ketika keduanya ditempatkan dalam satu experience, hal-hal seperti dress code, akses, dan aturan venue perlu dipikirkan dari sudut pandang pengunjung juga.
Aturan Boleh Ada, Tapi Jangan Jadi Kejutan di Gate
Kasus JKTGo ini memang berawal dari hal yang terlihat sederhana yaitu celana pendek. Tapi dari sisi event experience, persoalannya bisa lebih besar dari itu. Ketika sebuah aturan dapat menentukan apakah seseorang bisa masuk atau tidak, informasi mengenai aturan tersebut juga menjadi bagian dari experience.
Bukan berarti setiap event harus punya venue sendiri. Bukan juga berarti food festival dan exhibition furniture tidak bisa berada di tempat yang sama. Yang perlu dipastikan adalah ketika konteks event berubah, audience tidak ikut dibuat bingung. Karena bagi event creator, experience pengunjung bukan hanya tentang apa yang mereka lihat setelah masuk venue. Experience itu sudah dimulai dari saat mereka mencari informasi, memutuskan untuk datang, mempersiapkan diri, sampai akhirnya berdiri di depan gate.
Kalau sebuah aturan bisa menentukan apakah audience boleh masuk atau tidak, informasi tersebut seharusnya sudah mereka ketahui sebelum sampai di venue.
