Setelah cukup lama menunggu, akhirnya The Weeknd membawa After Hours Til Dawn Stadium Tour ke Jakarta, yang berlangsung pada 26 dan 27 September 2026. Selama dua malam, Jakarta International Stadium (JIS) diramaikan para XO yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan konser tunggal pertama The Weeknd di Indonesia.
Dari sisi produksi, konser ini punya banyak elemen yang langsung menarik perhatian. Panggung berukuran besar, visual, tata cahaya, hingga patung emas karya Hajime Sorayama menjadi bagian dari keseluruhan experience yang dibangun sepanjang pertunjukan. Belum lagi puluhan lagu yang membawa penonton melewati berbagai era musik The Weeknd. Mulai dari After Hours, Starboy, The Hills, Die For You, Save Your Tears, sampai Blinding Lights ikut mengisi setlist.
Namun, dalam event dengan skala sebesar ini, experience penonton sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi selama artis berada di atas panggung. Ada perjalanan menuju venue, proses masuk, posisi menonton, bagaimana penonton menikmati pertunjukan dari tempat mereka, sampai bagaimana ribuan orang meninggalkan venue setelah konser selesai. Dan di titik inilah konser The Weeknd di Jakarta menarik untuk dibedah.
Sebelum Show Dimulai, Experience Sudah Dimulai
Sebelum The Weeknd muncul di atas panggung, penonton sudah lebih dulu menjalani rangkaian experience mereka sendiri. Mulai dari menukar wristband, menentukan waktu keberangkatan, mencari akses menuju JIS, sampai mengetahui gate mana yang harus digunakan. Untuk konser ini, promotor telah membagikan informasi mengenai rundown, jadwal penukaran wristband, pembagian gate, hingga alternatif akses menuju venue. Penonton juga diingatkan bahwa tidak terdapat akses langsung dari Stasiun JIS menuju area stadion selama konser berlangsung. Artinya, perjalanan menuju venue menjadi bagian yang perlu diperhitungkan oleh audience. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi untuk konser dengan jumlah penonton yang sangat besar, informasi sebelum event punya peran yang cukup besar dalam membentuk ekspektasi.
Penonton yang tahu harus ke mana, masuk dari mana, dan apa yang perlu disiapkan akan memiliki experience yang berbeda dengan penonton yang masih mencari informasi ketika sudah berada di area venue.
Ketika Patung 12 Meter Menjadi Bagian dari Panggung
Begitu show dimulai, The Weeknd menunjukkan alasan mengapa After Hours Til Dawn dirancang sebagai stadium tour. Salah satu visual yang paling mencuri perhatian adalah patung humanoid berwarna emas setinggi sekitar 12 meter karya seniman Jepang, Hajime Sorayama. Patung tersebut menjadi pusat dari panggung dan dapat berputar 360 derajat, lengkap dengan laser yang keluar dari bagian mata serta efek asap dan api di sekitarnya.
The Weeknd juga tampil dengan visual yang konsisten dengan karakter dark dan futuristic. Ia mengenakan topeng rancangan Yohji Yamamoto, dipadukan dengan rompi kulit hitam dan mantel beludru, sementara para dancer hadir dengan jubah merah dan topeng emas. Semua elemen tersebut membuat panggung terasa sebagai bagian dari pertunjukan, bukan sekadar background untuk performer. Visual, musik, lighting, costume, dancer, dan stage design bekerja sebagai satu kesatuan untuk membangun experience sepanjang konser.
Skala produksi seperti ini tentu perlu ditopang oleh materi musik yang juga mampu menjaga energi penonton. Pada malam pertama, The Weeknd membawakan sekitar 42 nomor dari berbagai fase kariernya, mulai dari After Hours, Heartless, Faith, The Hills, Take My Breath, Sacrifice, Timeless, Die For You, Call Out My Name, hingga Blinding Lights.
Salah satu momen yang cukup terasa adalah ketika One of the Girls dimainkan. Lagu tersebut mengundang respons dan sing-along dari penonton, sementara lagu-lagu seperti Save Your Tears dan Less Than Zero juga menjadi bagian dari perjalanan panjang pertunjukan. Malam kedua pun punya sedikit perbedaan. Bagian São Paulo dan Tokyo Drift hadir dalam variasi yang tidak muncul pada malam pertama. Buat penonton, perbedaan kecil seperti ini bisa membuat dua malam dalam satu rangkaian tur tetap terasa punya cerita masing-masing.
Ketika Stadium Terasa Lebih Personal
Di tengah produksi yang serba besar, justru momen kecil dengan penonton menjadi salah satu bagian yang paling mudah diingat. Saat membawakan Out of Time, The Weeknd turun mendekati area penonton dan melihat seorang fan yang membawa tulisan ingin menyanyikan lagu tersebut. Ia kemudian memberikan mikrofon kepada fan tersebut untuk menyanyikan bagiannya sebelum memeluknya. Ada juga momen ketika The Weeknd menyelipkan kata “Jakarta” dalam penampilannya dan menyapa penonton menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan menjelang akhir konser, ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak menyangka membutuhkan waktu selama itu untuk kembali ke Indonesia.
“Kalian membuat saya jatuh cinta kepada kalian minggu ini.”
Momen seperti ini menunjukkan sesuatu yang menarik dalam sebuah stadium show yaitu sebesar apa pun production nya, interaksi yang terasa personal tetap punya tempat tersendiri dalam ingatan penonton.
Tapi Experience Tidak Berhenti di Dalam Venue
Di luar panggung, sejumlah penonton memberikan catatan mengenai akses menuju dan keluar dari JIS. Selama dua hari konser, JPO yang menghubungkan Stasiun JIS dengan stadion ditutup sementara sebagai bagian dari pengaturan mobilitas penonton. Penonton yang tiba menggunakan KRL kemudian diarahkan untuk melanjutkan perjalanan dengan shuttle bus atau ojek online menuju kawasan stadion.
Setelah konser selesai, kepadatan arus penonton menuju area transportasi dan titik penjemputan juga menjadi salah satu hal yang disoroti. Untuk event dengan jumlah audience yang besar, fase exit sebenarnya sama pentingnya dengan proses masuk. Penonton mungkin sudah menikmati pertunjukan selama dua jam, tetapi pengalaman tidak langsung selesai ketika lagu terakhir dimainkan. Ketika mereka masih harus berdesakan untuk keluar, mencari transportasi, atau menunggu di titik penjemputan yang padat, semua itu tetap menjadi bagian dari pengalaman mereka sebagai penonton.
Inilah mengapa crowd management tidak hanya berbicara tentang bagaimana penonton masuk dengan aman, tetapi juga bagaimana mereka bisa meninggalkan venue dengan alur yang jelas.
Ada Juga Catatan dari Sisi Produksi
Selain akses, terdapat pula catatan mengenai aspek teknis. Salah satu penonton menyebut layar raksasa panggung sempat mengalami gangguan di tengah pertunjukan. Bagi konser yang sangat mengandalkan visual sebagai bagian utama dari storytelling, layar bukan hanya elemen dekoratif. Ketika satu elemen visual mengalami gangguan, pengalaman penonton dari area tertentu juga bisa ikut terdampak. Namun di sisi lain, hal tersebut menjadi bagian dari realita production event berskala besar. Semakin kompleks sebuah show, semakin banyak pula elemen yang harus bekerja secara bersamaan. Karena itu, selain kualitas production saat semuanya berjalan sempurna, kesiapan menghadapi technical issue juga menjadi bagian dari bagaimana sebuah event dirancang.
Standing atau Seating? Ketika Experience Penonton Bisa Berbeda
Ada satu percakapan lain yang cukup menarik muncul dari audience yaitu soal penonton yang berdiri sepanjang konser di area seating. Salah satu penonton membagikan pengalamannya memilih tetap duduk karena menganggap berdiri sepanjang konser berpotensi mengganggu penonton lain. Respons dari penonton lain pun beragam. Ada yang merasa berdiri merupakan bagian dari menikmati konser, tetapi ada juga yang merasa pandangannya terganggu ketika penonton di depannya berdiri terus-menerus.
Menariknya, persoalan ini tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena di area seating, audience memang membawa ekspektasi yang berbeda-beda. Ada yang ingin ikut bernyanyi dan berdiri sepanjang lagu, sementara ada yang mungkin tidak bisa berdiri terlalu lama atau memang membeli tiket seating karena ingin menikmati pertunjukan sambil duduk. Di sinilah audience etiquette dan komunikasi mengenai ekspektasi seating menjadi relevan.
Bukan berarti semua orang harus menikmati konser dengan cara yang sama. Tetapi ketika satu cara menikmati pertunjukan mulai mengganggu pengalaman orang lain, ruang untuk saling memahami menjadi penting.
Jadi, Seberapa Penting Experience di Luar Panggung?
Konser The Weeknd di Jakarta memperlihatkan dua sisi yang menarik secara bersamaan. Di satu sisi, production dan performance berhasil menghadirkan stadium show yang besar, immersive, dan memorable. Panggung dirancang dengan detail dan memberikan banyak momen yang kemungkinan besar akan diingat oleh para XO.
Di sisi lain, pengalaman penonton juga dibentuk oleh hal-hal yang terjadi di luar panggung yaitu bagaimana mereka sampai ke venue, bagaimana flow penonton dikelola, bagaimana mereka menikmati pertunjukan dari area masing-masing, hingga bagaimana mereka meninggalkan venue setelah show selesai.
Hal-hal ini mungkin tidak masuk ke dalam video highlight, tetapi tetap menjadi bagian dari pengalaman penonton. Buat mereka yang merancang sebuah event, ini menjadi pengingat bahwa experience sebuah event tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di atas panggung. Detail di sekitar perjalanan audience juga bisa ikut menentukan bagaimana sebuah event dikenang setelah selesai.
Karena pada akhirnya, penonton tidak hanya mengingat apa yang mereka lihat di panggung. Mereka juga mengingat apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.
